*MAYDAY MAYDAY* PENGUMUMANNNNN…!!!! Siapa yang rumahnya deket mBah Marto (ID @martoart) yaaaa…??? Minta tolong tengokin ke rumahnyaaa, ku khawatir kalo dia “commit suicide” jeeee… Dia pan hidup mati ama empihhhhh…. Mana sesiangan HS-nya ga kliatan lagihhh… :(( *mrembik-mrembik

*MAYDAY MAYDAY* PENGUMUMANNNNN…!!!! Siapa yang rumahnya deket mBah Marto (ID @martoart) yaaaa…??? Minta tolong tengokin ke rumahnyaaa, ku khawatir kalo dia “commit suicide” jeeee… Dia pan hidup mati ama empihhhhh…. Mana sesiangan HS-nya ga kliatan lagihhh… :(( *mrembik-mrembik

Posted in Uncategorized | 47 Comments

[xenophobia] Menyiram kebun

Teriring jurnal berjudul ‘menyiram kebun’, terdefinisikan pula sekelumit arti dari xenophobia. Ya, sekelumit saja dan tak terlalu banyak pemaparan, bahwa yang ingin saya garisbawahi pada Xenophobia lebih memiliki arti sebagai ‘sikap -dan sifat- takut ataupun benci kepada pihak lain, dimana sifat dan sikap tersebut timbul akibat ketidaktahuan lantaran belum/tidak begitu mengenal dan merasa asing’.

Selanjutnya terucap maaf pula lantaran dalam memulai pokokbahasan mengenai xenophobia ini Anda justru akan saya ajak menyanyikan sebuah lagu anak-anak.

Lihat kebunku penuh dengan bunga, Ada yang putih dan ada yang merah

Setiap hari kusiram semua, Mawar melati semuanya indah…

Saya sangat mahfum dengan kedewasaan Anda para pembaca semuanya. Oleh karenanya saya juga sangat memahami ketika Anda juga sudah mulai ‘asing’ serta melupakan lagu anak-anak tersebut. Namun sekali lagi ijinkanlah saya mengajak Anda untuk tetap melantunkannya kembali.

Menjadi manusia yang memiliki panca-indera, sejatinya ada beraneka warna tanaman yang bisa dicermati di sekitar kebun kita demi tujuan saling melengkapi, diantaranya yang berwarna -bunga- merah dan yang memancarkan sinar putih. Perbedaan warna inilah yang sejatinya juga memberikan pelajaran bagi kita anak manusia. Bahwa berbeda itu adalah keniscayaan. Yang wajib dipahami adalah “menyirami” semuanya, lantaran keindahan bisa dicapai ketika kita mau merawatnya.

Karena sudah diawali dengan lagu anak, maka ada kehendak saya untuk sharing sedikit petuah yang diwejangkan simbok ketika dahulu saya juga masih berstatus kanak-kanak.

“Le, arepa dadi wong ora duwe bandha, ananging aja sliramu minder anggon sesrawungan marang wong liya. Mula saka iku, becik kudu permisi utawa sapa-aruh nalika ketemu menungsa liyan, sebab kirik wae yen ketemu manungsa ya njegog..!”

Nak, meskipun menjadi orang tak berharta, janganlah ‘minder’ untuk bergaul pada orang lain. Oleh karenanya, alangkah baiknya kalau kamu mengucap permisi ataupun bertegur-sapa ketika bertemu manusia lain, sebab yang namanya anjing saja kalau bertemu manusia dia tak segan mengeluarkan ucapan -menggonggong-

Ucapan simbok itu mengingatkan saya bahwa beberapa tahun lalu, tepatnya ketika saya mulai belajar mengenai hospitality-industry dan lalu bekerja di Hotel, ada hal yang hukumnya ‘wajib’ dilakukan, tak lain dan tak bukan adalah service alias pelayanan. Dimana hal pertamakali yang tak boleh ditinggalkan dalam service adalah “greeting (with good-voice)” dan juga “smile”.

Sesaji

Sesaji

Baik mengenai ‘greeting’ as a hotelier pun permisi sebagai petuah Simbok, dari keduanya ada kesamaan makna yang bisa dipetik. Yaitu agar kita selalu berlaku rendah-hati meski bertemu dengan orang yang belum dikenal sekalipun. Artinya kita tak bisa berlaku ‘acuh’ apalagi “tak mau mengenal” lantaran hal itu bisa menyebabkan “minder”, bahkan cenderung picik. Sementara masih berhubungan dengan petuah simbok tersebut, kenyataannya ada juga pepatah dari tanah Arab, “Al-nasu a’da’u ma jahilu – orang biasanya memusuhi hal-hal yg mereka tidak ketahui”

Berawal dari petuah pun pepatah itu, ada hal yang perlu digaris-bawahi, yaitu mengenai perlakuan “memusuhi”, ‘memerangi’, pun ‘membenci’. Bahwa perlakuan itu kenyataannya banyak yang dilandasi hanya karena tak ada kemauan ‘memahami’ agar mampu ‘mengerti’ pun ‘mengetahui’ hal yang tak seharusnya dibenci, dimusuhi, pun diperangi.

Sebagai contoh, seorang pria dan seorang wanita bisa langsung syah “dibenci” lantaran tindak berpelukan yang mereka lakukan, makin syah bisa diperangi ketika ditambahi bumbu ucapan ‘haram’ dengan alasan bukan muhrim.

Pertanyaannya, tak pernahkah terlintas selain pemikiran haram dalam benak..?

Sebagai manusia yang memiliki keyakinan, disatu sisi wajib hukumnya memahami tentang muhrim pun non-muhrim, halal pun haram, wajib ataupun sunah. Akan tetapi belajar dari mana saja, kapan saja, dan dimana saja, tentu tak kalah pentingnya bukan..? Oleh karenanya, sepertinya tak salah kalau kita juga musti menggali ilmu dari pembelajaran yang diberikan semut diseputaran kebun. Dimana ada “salam kebersamaan” yang dilakukan antarsemut saat berpapasan. Yaitu berhenti, lalu tangan kanan saling menyalami, sementara tangan kiri saling merangkul bahu, tentu tak lupa diiringi dengan adu pipi.

Memang -dalam berpelukan- manusia tak bisa disamakan dengan semut, hanya saja sepertinya terlalu naif jika segala sesuatunya harus selalu dikaitkan dengan ‘nafsu’ dimana pada akhirnya kata ‘haram” selalu syah ketika harus dilontarkan.

Mampu memahami dan lalu bisa mengerti serta mengetahui jalan pikiran orang lain inilah saya rasa kuncinya agar kita mampu terhindar dari rasa takut ataupun sifat buruk membenci pihak lain. Dari sini bukan tidak mungkin justru akan bertambah kerangka-pikir kita dalam menghargai keanekaragaman karunia sang pencipta.

Alih-alih hanya terkungkung pada pemikiran tentang “nafsu”, tiada jeleknya diganti dengan kata ‘cinta‘ ataupun welas-asih. Bahwa tak bisa dipungkiri keberadaan kita sebagai manusia ini banyak yang didasari oleh cinta. Awal adanya kita sebagai bayi tak pelak juga dimulai dengan cinta sepasang anak manusia, sudah menjadi bayi diberikanlah ASI sebagai aliran darah cinta dari sang ibu. Bahkan ada hal yang jarang kita sadari bahwa adakalanya seorang bapak pun seorang ibu tak jadi memasukkan makanan kemulutnya gegara mau berbagi ‘cinta’ kepada anaknya. Inilah kebenaran cinta-Nya yang mengalir ditubuh anak manusia.

Sebagai manusia yang bernegara, disadari atau tidak kebun bernama Indonesia ini adalah kebun besar yang sangat kompleks dan memiliki keragaman yang tidak dimiliki negeri lain. Ada manusia Jawa, tak sedikit manusia China. Tersedia orang Arab, tak jarang pula orang Sunda. Berderet orang Batak, tak jarang orang Minang disebelahnya, ataupun orang Papua diseberangnya. Yang pasti, kesemuanya itu memiliki budaya akar yang sangat kuat pada tiap-tiap individu, dimana tiap-tiap budaya memiliki falsafah yang luar biasa pula.

Dengan banyaknya budaya yang sekaligus sebagai cerminan kearifan lokal ini, tentu untuk dapat menuai kebijaksanaan darinya perlu sejenak mengenali. Sementara untuk dapat menterjemahkan tatacara, mampu mengkomunikasikan sikap, serta bisa menerima signal budaya yang ada, tentu saja dibutuhkan usaha “memahami”

Menyangkut budaya pun keyaqinan, ada yang saya prihatinkan beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika ada sekelompok orang mengadakan upacara penyembelihan kerbau, tak ketinggalan perlengkapan sesajinya. Namun yang terjadi justru ada saja yang menghujat pun mencibirnya, dengan dalih tak ada aturannyalah, menyekutukan Tuhanlah, dan penuturan-penuturan lainnya. Padahal kalau mau membuka mata toh yang melaksanakan upacara itu sudah dengan tegas mengaku sebagai “aliran kepercayaan”.

Pertanyaan lanjutannya, kenapa segala sesuatunya harus dinilai dari sudut pandang sempit..? Haruskah menyamakan standard penilaian padahal jelas-jelas sudah berbeda keyakinan…? Dan kalaupun misalnya terjadi pada satu keyaqinan, tak bisakah mencari sisi lain dalam membidiknya agar memperoleh nilai lebih…? Kenapa tiada polapikir bahwa “satuan derajat” itu selain bisa dihasilkan dari termometer kenyataannya bisa juga dihasilkan dari barometer, bahkan dari kompas…?

Alih-alih menghujat, sepertinya tiada rugi kalau dari sisi lain kita mau memahami sebuah kalimat tetua, ‘Jalma manungsa iku urip amung manembah mring Gusti‘, bahwa manusia itu hidup berisikan menyembah kepada Tuhan alias Sembah-Hyang. Oleh karenanyalah hidup ini tak pelak dikatakan sebagai persembahan, dilambangkan dengan “sesaji” alias ‘sajen’. Dengan begitu ada hal lebih yang mampu dipetik dalam “persembahan” ini, tak lain dan tak bukan adalah “memberi” dan ‘berbagi’

Bagi Anda yang masih menyediakan ruang perenungan, mari kita coba sedikit peka untuk juga dapat merenungkan kegiatan ‘sembahyang’ yang acapkali dilakukan.

Saya tak meragukan kualitas kecintaan pun penghormatan Anda terhadap Tuhan yang diyaqini, baik Tuhan yang dengan khusyuk Anda sembah di Masjid, Tuhan yang Anda “kunjuk-bektikan” di Gereja, ataupun Tuhan yang Anda temukan di Pura serta Vihara. Hanya saja mari kita ulas kembali, apakah kecintaan dan penghormatan itu tetap kita lakukan pada Tuhan di tempat lain…? Bukankah kita sama-sama meyaqini bahwa Tuhan itu satu namun tetap ada dimana-mana..?

Harapannya masih banyak tersedia ruang dalam batin pun otak kita untuk diisi penghormatan serta kecintaan terhadap Tuhan. Lantaran ketika ada keyaqinan bahwa Tuhan itu ada dimana-mana, tentunya sikap penghormatan terhadap Tuhan juga harus tetap ada pada umat manusia lain, bahkan tumbuhan ataupun binatang lain.

Dengan begitu, ketika kita mampu mengkomunikasikan itikad baik sebagaimana termaktub diatas, saya rasa kearifan lokal -yang tak bisa dipungkiri telah “menjadi akar budaya” kita- itu tidak akan mengganggu interaksi dalam perikehidupan. Sebaliknya, ketidakharmonisan hubungan -bahkan permusuhan- antarmanusia bisa sangat mudah muncul ketika tiada kemauan untuk melihat, mendengar dan menggali hal baik yang ada di dalamnya. Pemahaman “desa mawa cara, negara mawa tata” teramat dibutuhkan disini.

Inilah bagian dari kesejatian manusia, mampu memahami manusia lain, manungsak’ke manungsa liya. Masih sebagaimana petuah Simbok;

Kekancan iku mring sapa wae kareben awakmu ora minder, kareben oleh pakarti tanpa rumangsa mangerteni, kareben bisa ngudi ngelmu tanpa mbayar guru, kareben paham tanpa kudu didukani. Kamanungsan iku kawujud saka ngerti lan bisa makarti. Katresnan marang sapadha yaiku wungkuse.

Berkawan itu bisa dengan siapa saja agar kamu tidak minder, agar kamu tahu tanpa harus merasa sok tahu, agar bisa memperoleh ilmu tanpa harus membayar guru, agar kamu memahami tanpa harus menunggu penjelasan. Kemanusiaan ini terbentuk akibat mau mengerti dan bisa memahami. Dan cintalah pembungkus kesemuanya.

Tentang ‘kemanusiaan’, tak jauh berbeda dengan wejangan Simbok diatas adalah ungkapan dari seorang cendekiawan yang telah berpulang pada tanggal 6 Juli 2012 lalu, Moeslim Abdurrahman. Bahwa kemanusiaan itu satu, sebagaimana juga lapar, tak ada lapar secara Islam, tak ada lapar secara Kristen. Sementara dalam pelintas batas antaragama, agama itu bukan memenjarakan, namun membebaskan, bukan membenci, akan tetapi mengasihi.

Penghakiman atas umat lain tak semestinya terjadi ketika kita sebagai manusia berbudaya serta beragama ini tak menyepadankan diri dengan kura-kura yang memiliki rumah digendongannya, dimana hanya terdapat argumentasi bahwa hanya rumah satu-satunyalah yang layak huni, yaitu rumah yang di gendongnya itu.

Kembali kepada ikhwal xenophobia, bukan tidak mungkin rasa keterasingan itu bakal semakin berkembangsubur ketika kita hanya mau memanjakan “prasangka” pun “asumsi” pada sesuatu yang belum diketahui. Akan tetapi tak pelak kesemuanya itu akan hilang tatkala kita mau “menggali” keterasingan serta menyiram kebun perbedaan warna dengan menggunakan siraman cinta. Lantaran dengan begit
u maka bakal ada ‘tabir pemahaman’ kemanusiaan yang akan terbuka. Senada dengan lagu anak-anak diawal jurnal ini, mawar melati meski berbeda warnanya, namun semuanya akan tetap indah ketika ada kehendak ‘setiap hari kusiram semua’.

Jadi tatkala di kebun lain terdapat cerita dua orang terpidana memandang keluar dari jendela tahanan, dimana yang satu melihat tanah lapang, sementara yang lainnya melihat bintang serta bulan. Semoga Anda -dan saya- masih dikaruniai hati jernih guna meneladani orang yang sedang melihat bintang serta bulan tersebut. [uth]

____________________________________________________________________

An illustration was taken when attending “nyadran ceremony” last week.

As my promise, journal “menyiram kebun” is presented to mBak WayanLessy.

Posted in Uncategorized | 45 Comments